STRUKTUR DAN TEKSTUR BATUAN METAMORF

Mengenal Geologi

STRUKTUR DAN TEKSTUR BATUAN METAMORF

A. Struktur Batuan Metamorf

Adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut. (Jacson, 1997).  Secara umum struktur batuan metamorf dapat dibadakan menjadi struktur foliasi dan nonfoliasi (Jacson, 1997).

1. Struktur Foliasi

Merupakan kenampakan struktur planar pada suatu massa. Foliasi ini dapat terjadi karena adnya penjajaran mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissoty), orientasi butiran (schistosity), permukaan belahan planar (cleavage) atau kombinasi dari ketiga hal tersebut (Jacson, 1970).

Struktur foliasi yang ditemukan adalah :

1a. Slaty Cleavage

Umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir sangat halus (mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang belah planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya disebut slate (batusabak).

View original post 598 more words

Batuan Sedimen Non-Klastik

JURUSAN TAMBANG UNDANA

Batuan sedimen non-klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari proses kimiawi, seperti batu halit yang berasal dari hasil evaporasi dan batuan rijang sebagai proses kimiawi. Batuan sedimen non-klastik dapat juga terbentuk sebagai hasil proses organik, seperti batugamping terumbu yang berasal dari organisme yang telah mati atau batubara yang berasal dari sisa tumbuhan yang terubah. Batuan ini terbentuk sebagai proses kimiawi, yaitu material kimiawi yang larut dalam air (terutamanya air laut). Material ini terendapkan karena proses kimiawi seperti proses penguapan membentuk kristal garam, atau dengan bantuan proses biologi (seperti membesarnya cangkang oleh organisme yang mengambil bahan kimia yang ada dalam air).
Dalam keadaan tertentu, proses yang terlibat sangat kompleks, dan sukar untuk dibedakan antara bahan yang terbentuk hasil proses kimia, atau proses biologi (yang juga melibatkan proses kimia secara tak langsung). Jadi lebih sesuai dari kedua-dua jenis sedimen ini dimasukan dalam satu kelas yang sama, yaitu sedimen endapan kimiawi / biokimia…

View original post 513 more words

Craft of Writing: Let the Reader’s Imagination Do the Heavy Lifting

Featured Image -- 50

The Daily Post

This is the kind of flowery I can get behind. (Flowery Piano by Andreas (CC BY-SA 2.0) This is the kind of flowery we can get behind. Flowery Piano by Andreas(CC BY-SA 2.0)

In storytelling, description and detail translate what’s in your imagination into scenes and images in the reader’s mind. Can bloated description detract from your work, fill your reader’s brain with too much information, and distract them from the story? The answer is yes. In today’s post we’ll look at how to know when enough is enough.

View original post 710 more words

Prapraktikum Pengenalan Teknologi Informasi [modul 5] : Matriks

#include <iostream>
using namespace std;
int main (){
  int mat[10][10];
  int m;
  int n;
  int i;
  int j;
  int x;
  bool cek;

//ALGORITMA
cout<<”  Selamat datang di program matriks!”<<endl;
cout<<”  ==================================”<<endl;
cout<<endl;

do{
cout<<“Input M matriks : “; cin>>m;
cout<<“Input N matriks : “; cin>>n;
cout<<endl;
if (m<=0 || m>10 || n<=0 || n>10){
cout<<“input M dan N error ! Coba lagi “;}
} while (m<=0 || m>10 || n<=0 || n>10);

for (i=0; i<m; i++)
{
    for (j=0; j<n; j++)
    {
        cout<<“input elemen ke [“<<i<<“][“<<j<<“] : “;
        cin>>mat[i][j];
    }
}
cout<<endl;

cout<<“Matriks yang telah dibuat : “<<endl;
for(i=0; i<m; i++)
{
    for (j=0; j<n; j++)
    {
      cout<<mat[i][j]<<”   “;
    }
cout<<endl;
}

if (m==n)
{
    cout<<“Matriks tersebut merupakan matriks simetris”<<endl;
}
else { cout<<“Matriks tersebut bukanlah matriks simetris “<<endl;}

cout<<endl;
cout<<“Input bilangan yang ingin anda cek : “; cin>>x;
for (i=0; i<m; i++)
{
    for (j=0; j<n; j++)
    {
        if (mat[i][j]==x)
        {
            cek=true;
            cout<<x<<” terdapat dalam matriks “;
            break;
        }
    }
if (mat[i][j]==x)
{
    break;
}
}
if (cek!=true)
{
    cout<<x<<” tidak terdapat dalam matriks”;
}

cout<<endl;

return 0;
}

Prapraktikum Pengenalan Teknologi Informasi [modul 4] : Array

#include <iostream>
using namespace std;
int main (){

//KAMUS
    int mat[10];
    int i;
    int j;
    int i_efektif;
    int sum;
    int b_bawah;
    int b_atas;

//ALGORITMA
cout<<“Selamat datang pada program array !”<<endl;
cout<<“=================================”<<endl;

do {
cout<<“Input indeks efektif array: “;
cin>>i_efektif;
if (i_efektif<1 || i_efektif>10) {
cout<<“input error ! “;}
} while (i_efektif<1 || i_efektif>10);

    for(i=0; i<i_efektif; i++)
{
    cout<<“Input elemen ke-“<<(i+1)<<” : “;
    cin>>mat[i];
}

cout<<“Input batas bawah searching: “;
cin>>b_bawah;
cout<<“Input batas atas searching: “;
cin>>b_atas;

sum=0;
for(j=0; j<i_efektif; j++)
{
    if (mat[j]>b_bawah && mat[j]<b_atas)
    {
        sum++;
    }
}

if (sum==0)
{
    cout<<“Tidak terdapat elemen yang memenuhi kriteria searching”;
}
else
{
cout<<“Terdapat “<<sum<<” elemen yang memenuhi kriteria searching.”;
}
return 0;
}

Untuk Keluarga, untuk Tuhan, dan untuk 20 orang dibelakangku

Ini adalah sebuah cerita singkat, tentang seseorang yang mendapat sebuah keberuntungan. Ibarat memecah kata pepatah “bak pungguk merindukan bulan”, kalau dipikir secara realistis terasa tidak mungkin. Tapi se-tidak mungkin-nya suatu kondisi, jika Allah meridhoi maka kondisi tersebut akan terjadi juga.

Cerita ini bermula sekitar 19 tahun yang lalu, yaitu ketika sepasang suami istri mendapatkan anak ke8 mereka yang mereka beri nama Fathur Rozaq. Dan Fathur Rozaq tersebut adalah aku, aku yang akan menceritakan sebagian kecil kehidupan yang telah aku lalui.

Hal pertama yang ingin aku beberkan adalah, hal yang dapat aku banggakan. Satu-satunya hal yang dapat aku banggakan di dunia ini adalah karena aku memiliki sebuah keluarga.  Aku akan menceritakan ibuku terlebih dahulu. Siti Saroh, 2 kata yang tak akan pernah bisa ku abaikan, apalagi aku lupakan. Dia adalah perempuan terhebat yang pernah aku kenal dan merupakan manusia pertama yang aku kenal sebelum ayahku. Ibuku adalah seorang penjual jamu tradisional yang dijajakan keliling desa. ia mulai bejualan jamu sekitar 10 tahun yang lalu, subhanalloh. Setelah ibu, ada ayah disebelah kiri ibuku. Ayahku bernama Chamami. Ia adalah pria yang paling hebat dimataku meskipun ia hanya seorang petani. Tapi, menurutku pribadi, ngga ada yang salah kan dengan pekerjaan petani. Dalam bertani, ayah sering kali di bantu oleh ibu. Mulai dari ‘nyebar’, ‘nandur’, ‘matun’,  hingga saat panen. Tapi yang sangat memalukan adalah, aku tidak pernah membantu mereka dalam hal menggarap sawah, entah mengapa aku juga kadang bertanya-tanya sendiri. Mereka kadang di bantu oleh kakak-kakakku atau menyewa tetangga. Oh ya, aku adalah anak kedelapan dari delapan bersaudara. Adalah taufiqurrahman, rofiqoh, ahmad ashar, nur laela, fajriah, siti marifah, dan imam zuhdi yang dipercayai oleh Allah untuk membantu ayah dan ibu dalam menjagaku. Aku kadang merasa iri kepada mereka semua, karena mereka sudah bisa membahagiakan ayah dan ibu yaitu dengan bekerja, dan bisa sedikit mengisi rekening ayah. Sementara aku, siapa aku? Bisa apa aku?

Lalu tentang pendidikan. Alhamdulillah kedua orang tuaku yang dulunya hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR atau setara SD untuk saat ini) dapat menyekolahkan aku dan ketujuh saudaraku. Mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA dapat diraih keenam saudaraku, sementara kakakku yang pertama hanya mengenyam pendidikan sampai taraf SMP saja. Dan aku, aku yang paling beruntung diantara kami sekeluarga, aku bisa kuliah. Cukup menjadi kabar yang sempat heboh memang, bahkan awalnya, tidak semua sanak saudaraku percaya bahwa aku, kuliah.

Singkat cerita, sekarang aku sedang belajar di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan di Institut Teknologi Bandung semester 2. Iya, aku adalah mahasiswa baru jreng jreng di perguruan tinggi ini. Flashback, aku dulunya sekolah di SMA Negeri 1 Kroya jurusan IPA. Kenapa aku masuk jurusan IPA?, bahkan mengapa aku masuk SMA?. Hal itu karena aku bertekad untuk kuliah, meskipun mustahil fikirku. Karena jika memandang ekonomi keluarga yang pas-pasan, kesempatan untuk kuliah terasa sangat kecil.

2 tahun pertama di SMA, aku belum memikirkan apapun yang menyangkut dunia perkuliahan. Itu juga karena aku bukanlah orang yang menonjol dikelas. Tidak semua guru mengenalku, kenapa?, karena aku bukanlah bintang kelas, paling banter dapat peringkat 3. Lalu saat kelas XII, aku mulai berfikir mau jadi apa aku nanti, kerja apa kuliah?. Aku mulai rajin ke warnet, sekedar mencari informasi mengenai perguruan tinggi ikatan dinas. Itu karena menurutku, dengan kuliah di perguruan tinggi ikatan dinas aku tidak akan membebani keluarga dengan biaya kuliah, juga lulusannya tidak perlu bingung-bingung mencari pekerjaan. Dan tarraaa… ada informasi seputar SPM STIS. Aku mulai giat bertanya-tanya tentang STIS ke teman-teman yang sepemikiran, kuliah di kedinasan. Mulai dari syarat pendaftarannya, persaingannya, prospek kerja kedepannya, dan apapun yang terpikirkan dalam benakku tentang STIS aku diskusikan bersama teman yang sepemikiran tersebut. Namun mungkin Allah menghendaki rencana lain, aku gagal tes tahap pertama STIS. Tak lama kemudian, ada selebaran yang berisi tentang beasiswa kuliah kerjasama UNSOED-Holcim Tbk dan hasilnya sama seperti USM STIS, aku gagal ditahap tes pertama.

Gagal di 2 USM tak terlalu aku hiraukan, hanya rasa optimis untuk kuliah lah yang mulai tereduksi. Hingga akhirnya aku merasa mendapatkan titik terang. Diawal semester 2, Bu Rini guru BK-ku bercerita panjang lebar memberi informasi seputar perguruan tinggi. Waktu itu aku seperti acuh tak acuh terhadap ucapan Bu Rini. Pikirku, aku hanya anak petani, ngga mungkin lah bisa kuliah di perguruan tinggi yang dijelaskan oleh guru Bk-ku itu. Lalu di menit-menit terakhir, Bu Rini secara singkat membahas beasiswa bidikmisi dan bla bla bla, intinya bisa kuliah secara gratis dan tiap bulan akan mendapat uang saku. Aku langsung antusias mendengarkan informasi yang ku pikir sangat menarik tersebut. Mulai hari itu, aku jadi sering google-ing tentang perguruan tinggi yang ikut serta dalam SNMPTN. Mulai dari jurusan yang tersedia, kuota per jurusan, sampai tingkat persaingan tahun sebelumnya tak lupa aku cari. Dan setelah berbagai pertimbangan ini itu aku memantapkan hati untuk memilih ITB sebagai prioritas utama, walaupun sebelumnya telah mendapat larangan keras dan dilarang untuk memilih ITB. “ngga mungkin kamu diterima di ITB, tempat kuliah pak Habibi” kata ayahku dulu. Namun aku berkata “kalau memang Allah mengehendaki aku untuk kuliah, insyaalloh aku diterima”. Dan maha besar Allah, aku diterima di ITB lewat jalur SNMPTN dan dapat bidikmisi. Dari SMA Negeri 1 Kroya, ada 2 siswa yang diterima di ITB, yaitu aku dan Aziz Muzaki yang diterima di Fakultas Teknologi Industri.

Kalau ditanya, “Kenapa memilih ITB dan kenapa pilih FTTM?”, bingung juga aku menjawabnya. Karena sebelumnya aku sama sekali tidak mengenal ITB. tidak ada alumni SMA ku yang di ITB yang bisa di tanya-tanya tentang ITB. dan  jujur, aku merasa punya passion lebih di bidang Biologi. Waktu itu, dokterlah yang aku pikir sejalur dengan Biologi. Dan meskipun dokter adalah cita-citaku dari kecil, tapi menimbang katanya meskipun dapat bidikmisi kedokteran, nantinya ada pendidikan keprofesian yang biayanya tidaklah sedikit, maka aku mengurungkan niatku tersebut. Lalu ada temanku yang bilang kalau dia ingin masuk FTTM ITB, sejak saat itu aku mulai gencar mencari info fakultas tersebut, hingga ahirnya aku berkeinginan bekerja di dunia pertambangan.

Untuk mahasiswa bidikmis ITB, di berikan waktu sekitar 1 bulan untuk beradaptasi di Bandung ini, dan sambil mengenal kampus ITB. wahana tersebut adalah program matrikulasi. Dalam program ini, kami mendapat seminar, pengenalan gedung, serta pengenalan fasilitas yang ada di ITB. Selain matrikulasi, beswan bidikmisi juga diikutkan ke berbagai kegiatan seperti seminar membangun karakter, sukses kuliah sukses karir, dan berbagai macam mentoring. Untuk saat ini, selain mengikuti program-program wajib beswan bidikmisi, aku juga memaksa diri untuk berkemahasiswaan. Aku mengikuti Unit Radio Kampus. Menurutku pribadi, ini unit yang hebat. Disini mengutamakan kekeluargaan, baru keprofesionalan. Di unit ini, aku termasuk didalam keprofesian Announcer. Announcer adalah keprofesian dalam radio yang bertugas menjadi penyiar.

Menjadi seorang beswan bidikmisi di ITB merupakan sebuah anugerah Allah SWT. Sudah kuliah gratis, di beri uang saku pula, plus banyak kegiatan-kegiatan yang membangun karakter. Dan uang saku yang diberikan disini merupakan uang saku yang paling besar dibanding uang saku untuk beswan bidikmisi di perguruan tinggi yang lain. Disini aku mendapatkan uang saku sebesar Rp950.000, Alhamdulillah, sungguh nikmat yang mudah-mudahan berkah. Namun, itu semua mungkin saja bukanlah nikmat, mungkin itu semua malah sebuah awal dari tanggung jawab kepada rakyat, karena bagaimanapun aku kuliah menggunakan uang rakyat. Hal itulah yang menjadi salah satu pemicu belajarku, meskipun ketika awal-awal kuliah di ITB, aku merasa tempatku bukanlah disini.

Pembelajaran di ITB menggunakan sistem pembelajaran yang cepat, sangat berbeda dengan tipe belajarku. Aku sempat mengalami stress berat saat mingu-minggu pertama kuliah. Tugas yang menumpuk, kuis, dan materi baru benar-benar membuatku stress. Aku sempat berpikir untuk keluar dari kampus ganesha ini dan mencoba SBMPTN tahun depan dan tidak memilih ITB. aku sempat merasa bahwa aku adalah orang yang paling bodoh di kelas, dan tidak pantas diterima di ITB. aku merenung, berpikir, dan bertanya pada diri sendiri, “yang nyuruh kamu milih ITB siapa?”, hingga aku sadar, aku telah mengambil kesempatan 20 orang dibelakang sana yang tidak diterima di ITB. jika aku tidak menggunakan kesempatan ini dengan baik, aku benar-benar egois. Karena itulah, saat ini aku sedang berusaha memanfaatkan kesempatan kuliah di ITB. Untuk keluarga, untuk Tuhan, dan untuk 20 orang dibelakangku.

Gunung Kelud Meletus

Solopos.com, SOLO — Dampak letusan Gunung Kelud pada Kamis (13/2/2014) malam pukul 22.50 WIB masih dirasakan hingga Soloraya. Di Solo dan sekitarnya, hujan abu turun pada Jumat (14/2/2014) pagi.

Pantauan Solopos.com, hujan abu mulai turun sejak pukul 04.00 WIB. Hujan abu yang cukup pekat tersebut membuat jalanan tertutup abu vulkanik tebal. Atap-atap rumah dan bangunan juga tertutup abu.

Seperti diketahui, letusan Gunung Kelud semalam memang menyemburkan material vulkanik ke arah barat daya. Artinya jika terbawa angin, material tersebut memang sangat mungkin sampai ke wilayah Jawa Tengah, termasuk Solo.

Diberitakan sebelumnya, Soloraya dan bebeberapa daerah lain di Jawa Tengah bagian timur ikut merasakan getaran letusan Gunung Kelud. Getaran itu membuat kaca dan pintu bangunan bergetar keras hanya bebeberapa saat setelah letusan terjadi. Dilaporkan getaran yang sama juga dirasakan warga di daerah Kudus, DIY, dan sekitarnya.

Material abu dan kerikil yang bisa dirasakan warga di Malang, Kediri, dan Blitar saat letusan. Sementara itu, dari seputaran pusat letusan, erupsi Gunung Kelud dilaporkan menimbulkan hujan pasir dan kerikil.

courtesy of: harianjogja.com

Sebuah cerita sederhana

tadi aku dapet tugas, mending aku upload aja kali yahh, buat ngramein blog :’D, selamat membaca :’D

ini adalah sebuah cerita singkat, tentang seseorang yang mendapat sebuah karomah. Ibarat memecah belah kata pepatah bak pungguk merindukan bulan, sang pungguk telah meraih rembulan yang telah bersinar. Namun sekarang, ia masih mencoba dan berusaha untuk bersinar dalam sinar rembulan yang teramat terang.

Cerita ini bermula sekitar 19 tahun yang lalu, yaitu ketika sepasang petani sawah mendapatkan anak ke8 mereka. Dan sesaat, secarik kertas dengan header akta kelahiran, mendapat kalimat Fathur Rozaq pada kertas tersebut. Dan Fathur Rozaq tersebut adalah aku, aku yang akan menceritakan sebagian kecil kehidupan yang telah aku lalui.

Hal pertama yang ingin aku beberkan adalah, hal yang dapat aku banggakan. Satu-satunya hal yang dapat aku banggakan di dunia ini adalah karena aku memiliki sebuah keluarga.  Aku akan menceritakan ibuku terlebih dahulu. Siti Saroh, 2 kata yang tak akan pernah bisa ku abaikan, apalagi aku lupakan. Dia adalah perempuan terhebat yang pernah aku kenal dan merupakan manusia pertama yang aku kenal sebelum ayahku. Ibuku adalah seorang penjual jamu tradisional yang dijajakan keliling desa. ia mulai bejualan jamu sekitar 10 tahun yang lalu, subhanalloh. Setelah ibu, ada ayah disebelah kiri ibuku. Ayahku bernama Chamami. Iya adalah pria yang paaaaaling hebat dimataku meskipun ia hanya seorang petani. Tapi, menurutku pribadi, ngga ada yang salah kan dengan pekerjaan petani. Dalam bertani, ayah sering kali di bantu oleh ibu. Mulai dari ‘nyebar’, ‘nandur’, ‘matun’,  hingga saat panen. Tapi yang sangat memalukan adalah, aku tidak pernah membantu mereka dalam hal menggarap sawah, entah mengapa aku juga kadang bertanya-tanya sendiri. Mereka kadang di bantu oleh kakak-kakakku atau menyewa tetangga. Oh ya, aku adalah anak kedelapan dari delapan bersaudara. Adalah taufiqurrahman, rofiqoh, ahmad ashar, nur laela, fajriah, siti marifah, dan imam zuhdi yang dipercayai oleh Allah untuk membantu ayah dan ibu dalam menjagaku. Aku kadang merasa iri kepada mereka semua, karena mereka sudah bisa membahagiakan ayah dan ibu yaitu dengan bekerja, dan bisa sedikit mengisi rekening ayah. Sementara aku, siapa aku? Bisa apa aku?

Lalu tentang pendidikan. Alhamdulillah kedua orang tuaku yang dulunya hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR atau setara SD untuk saat ini) dapat menyekolahkan aku dan ketujuh saudaraku. Mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA dapat diraih keenam saudaraku, sementara kakakku yang pertama hanya mengenyam pendidikan sampai taraf SMP saja. Dan aku, aku yang paling beruntung diantara ketujuh saudaraku, aku bisa kuliah.

Singkat cerita, sekarang aku sedang belajar di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan di Institut Teknologi Bandung semester 2. Iya, aku adalah mahasiswa baru jreng jreng di perguruan tinggi ini. Flashback, aku dulunya sekolah di SMA Negeri 1 Kroya jurusan IPA. Diawal semester 2, Bu Rini guru BK-ku bercerita panjang lebar memberi informasi seputar perguruan tinggi. Waktu itu aku ngga kepikiran untuk kuliah dan malah cuek terhadap ucapan Bu Rini. Pikirku, aku hanya anak petani, ngga mungkin lah bisa kuliah. Lalu di menit-menit terahir, Bu Rini secara singkat membahas beasiswa bidikmisi dan bla bla bla, intinya bisa kuliah secara gratis dan tiap bulan akan mendapat uang saku. Aku langsung antusias mendengarkan informasi yang ku pikir sangat menarik tersebut. Dan setelah berbagai pertimbangan ini itu aku memantapkan hati untuk memilih ITB sebagai prioritas utama, walaupun sebelumnya telah mendapat larangan keras dan dilarang untuk memilih ITB. “ngga mungkin kamu diterima di ITB, tempat kuliah pak Habibi” kata ayahku dulu. Namun aku berkata “kalau memang Allah mengehendaki aku untuk kuliah, insyaalloh aku diterima. Dan maha besar Allah, aku diterima di ITB lewat jalur SNMPTN dan dapat bidikmisi. Dari SMA Negeri 1 Kroya, ada 2 siswa yang diterima di ITB, yaitu aku dan Aziz Muzaki yang diterima di Fakultas Teknologi Industri.

Hal yang mungkin tak akan pernah bisa kulupakan adalah saat awal-awal tinggal di Bandung. Aku dan Aziz murni orang Cilacap, dan diantara kami berdua tidak ada yang mempunyai sanak saudara di Kota Kembang ini. Nekad, aku lantas berangkat ke Bandung dengan Aziz tentunya dan ditemani salah satu keluarganya Aziz, dan yang ternyata baru pertama menginjakkan kaki di Bandung sama seperti aku dan Aziz. Waktu itu kami bertiga ke Bandung naik kereta dan turun di stasiun Kiara Condong, lalu kami naik angkot Riung-Dago, aku betanya ke sopir angkot tersebut, katanya kalau mau ke ITB naik angkot sekali lagi, Cicaheum-Ciroyom. Kamipun mengikuti perintah tersebut, dan subhanallah, saat kami tanya ke pak sopir tentang kampus ITB, pak sopir berkata kalau kampus ITB sudah terlewat dari tadi. Kamipun turun dan memutuskan jalan kaki untuk menemukan kampus gabesha ini.

Sewaktu masih di rumah, aku telah mencari tempat tinggal sementara di Bandung untuk 3 hari, karena setelah itu semua beswan bidikmisi akan tinggal di Asrama. Aku menemukan Asrama Bumi Ganesha, tarif permalam yang cukup murah sangat menarik bagiku, di poster yang di upload di Facebook tertera 10K/malam. Destinasi pertama setelah kampus ITB adalah asrama tersebut, namun saat kami meminta 3 kamar untuk 3 malam, petugas berkata kalau kuota kamar tamu yang disewa permalam sudah terisi penuh, hanya tersisa kamar tetap. Pikirku sayang kalau menyewa kamar untuk 1 bulan tapi hanya dipakai 3 hari. Kamipun lantas mencari alternatif lain, namun nihil. Waktu itu sekitar jam 5 sore, dan kami bertiga belum sholat ‘Ashar. Kamipun lantas ke masjid terdekat, kami sholat ‘Ashar disitu sambil beristirahat karena terlalu capek berjalan kesana-kemari. Hingga maghrib, kami sholat maghrib disana, dan sebuah ide muncul, “gimana kalau kita nginep di masjid aja” kataku. Lalu kami menghampiri takmir masjid, dan diiyakan. Masjid itu ada dua lantai. Namun pada lantai kedua, masih ada tangga keatas, dan ternyata sebuah kamar kecil, lusuh, berdebu, dan sempit sekali. Tapi maha besar Allah, setidaknya kami bisa tidur dikamar itu. Sungguh pengalaman yang, subhanallah.

Untuk mahasiswa bidikmis ITB, di berikan waktu sekitar 1 bulan untuk beradaptasi di Bandung ini, dan sambil mengenal kampus ITB. wahana tersebut adalah program matrikulasi. Dalam program ini, kami mendapat seminar, pengenalan gedung, serta pengenalan fasilitas yang ada di ITB. dengan adanya program ini, kami para beswan bidikmisi dapat mengenal ITB mendahului mahasiswa non bidikmisi. Selain matrikulasi, beswan bidikmisi juga diikutkan ke berbagai kegiatan seperti seminar membangun karakter, sukses kuliah sukses karir, dan berbagai macam mentoring.

Menjadi seorang beswan bidikmisi di ITB merupakan sebuah anugerah Allah SWT. Sudah kuliah gratis, di beri uang saku pula, plus banyak kegiatan-kegiatan yang membangun karakter. Dan uang saku yang diberikan disini merupakan uang saku yang paling besar dibanding uang saku untuk beswan bidikmisi di perguruan tinggi yang lain. Disini aku mendapatkan uang saku sebesar Rp950.000, Alhamdulillah, sungguh nikmat yang mudah-mudahan berkah.

Namun, itu semua mungkin saja bukanlah nikmat, mungkin itu semua malah sebuah awal dari tanggung jawab kepada rakyat, karena bagaimanapun aku kuliah menggunakan uang rakyat. Saat ini aku sedang berusaha memanfaatkan kesempatan ini, kesempatan kuliah di ITB. ini adalah kesempatan langka yang tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Dalam langkah-langkahku dan setiap gerakan jemariku semoga Allah ada disampingku, untuk membantuku.